Tuesday, March 24, 2009

di Tikungan

Sungguh teramat singkat perjalanan ini, aku yang selalu merasa memiliki daya hidup yang meluap-luap harus patuh pada kenyataan ketika satu demi satu daun-daun yang gugur hadir ke hadapanku. Rangkaian hari-hari seolah berusaha memberitakan kepadaku sebuah pesan dari masa depan. Tapi seperti sebelum-sebelumnya aku susah untuk menebak pesan yang ingin disampaikan padaku. Gambar-gambar kesedihan, kegembiraan dan ketulusan silih berganti mengisi layar pandangku, tapi tak sedikitpun kumengerti pesan singkatnya.

Sejenak aku merasakan aliran nafasku berhenti di tenggorokan, tersekat sebuah tembok penghalang besar yang tak kuketahui arah dan asalnya. Berita kematian lagi mampir ke telingaku, kali ini salah seorang tetanggaku dulu di Surabaya. Aku mengenal sosoknya sebagai seorang ibu dari sahabat karibku. Yang membuatku tersekat bukanlah siapa yang meninggal, melainkan berita dan inti dari berita itu sendiri.

Mungkinkah berita itu datang tanpa maksud ? Jika ada maksudnya, mungkinkah ia datang hanya sebagai berita untukku menyegerakan ber-tauziah (ngelayat). Ataukah ada maksud yang lain? Sebagai pengingat tentunya, bahwa setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati. Termasuk aku, kau dan semua.

Ketika perjalanan hidupku mengantarku ke sebuah tikungan, aku mendengar seorang kawan menyapa.
"Perjalananmu menyenangkan kawan?", tanyanya.
"Ya, Alhamdulillah menyenangkan. Penuh dengan kejutan di setiap tikungan.", jawabku.
"Kau menikmatinya?", tanyanya lagi.
"Tentu saja." jawabku.

Kali ini dia tersenyum sejenak, tidak segera bertanya lagi. Aku memandangnya dengan lebih dekat, mencoba mencari tahu siapa dan apa tujuannya menyapaku.
"Kau bukan kawan lamaku, kita belum pernah bertemu sebelumnya. Kalo boleh tahu, siapa kau? Dan dari mana kau mengenalku?", giliranku yang bertanya kepadanya.
"Aku seorang kawan dari masa depan, aku mengenalmu sangat dekat. Kelak kita akan seiring sejalan. Aku datang hanya untuk menyapamu sebagai pengingat."
"Pengingat?"
"Ya"
"Tentang apa?"
"Tentang masa depan."

Setelah cukup lama aku memandangnya, wajah yang ada di hadapanku seperti telah kukenal cukup lama. Dan semakin lama semakin jelas bagiku, dia tak lain adalah diriku sendiri. Nyaris tak kukenali karena kumis dan janggut yang lebat, bahkan lebih lebat dari yang pernah kubayangkan. Raut mukanya terlihat cukup dewasa, kerutan di wajah nampak jelas. Aku tersenyum.

"Ya aku ingat. Terima kasih", jawabku sebelum berlalu untuk melanjutkan perjalanan.

Aku merasa menapaki lorong panjang di antara deretan-deretan rumah yang tertutup dan terkunci. Terkadang memang ada pintu yang terbuka dan mengajakku mampir. Ada beraneka hal yang disajikan di dalamnya hanya untuk menggodaku agar aku bersedia mampir. Tapi seringkali aku mencoba mengingatkan diriku sendiri bahwa aku tak membawa banyak bekal, tak cukup waktu untuk singgah dan menghamburkannya di tempat yang belum kukenal sebelumnya.

Tak terasa beberapa langkah dari tikungan yang lalu aku sudah sampai di persimpangan lagi, tikungan yang lain lagi. Untuk beberapa saat aku berhenti sejenak, menoleh ke belakang untuk memandangi jejak langkah yang pernah kubuat. Jujur kuakui, ada sedikit kegemberiaan yang terletup di dada ketika mengamati langkah-langkahku sebelumnya. Meski ada beberapa kerikil yang pernah membuatku terantuk dan terhuyung, membangkitkan kembali sebuah emosi yang membuatku larut dalam kesunyian. Aku masih memandangi langkah-langkah di belakangku ketika sebuah tepukan di bahu mengejutkanku. Seorang pria dan seorang perempuan berdiri tepat di depanku dan tersenyum.

"Kau sudah sampai di sini, tak perlu kembali.", sang pria menasihatiku.
"Tapi ada sebuah kenangan indah yang ingin kuulang kembali di setiap langkah itu.", jawabku.
"Aku yakin semua merasakan hal yang sama. Tapi kau tetap harus maju. Banyak hal yang sudah menunggumu di depan sana."
"Aku masih ragu, apakah di depan sana akan ada jalan yang indah seperti yang pernah kulalui?"
"Aku juga tak tahu.", jawabnya. "Tapi ada kesempatan untuk membuatnya lebih indah.", lanjutnya.

Aku tersenyum dan setelah mengucap salam aku bergegas melanjutkan perjalananku. Apa yang menungguku di depan, memang tak pernah akan mampu kutebak. Tapi setiap langkah yang kuayunkan menapakinya, kelak pasti punya arti yang teramat besar. Setidaknya bagi diriku sendiri.



moer

Sunday, March 15, 2009

Doa malam pertama

Malam pertama akan selalu "menegangkan" bagi siapa saja. Ini akan jadi kenangan tak terlupakan dan sebuah pengalaman yang menakjubkan. Tapi untuk melaluinya nggak bisa pake acara grudak gruduk, musti pake tata-krama karena kita makhluk berbudaya. Dan ada doanya karena kita makhluk beragama....ini aku share doa-nya ... jangan lupa diapalin ....

Dibaca sambil kecup kening istri ..... : (hanya untuk yang sudah menikah bukan yang pingin ML)

اللهم انى اسئلك من خيرها وخيرما جبلتها عليه واعوذبك من شرها وشرما جبلتها عليه

Allaahumma innii as-aluka min khairihaa wa khaira maa jabalathaa 'alaihi wa a'uudzubika min syarihaa wa syahri maa jabalathaa 'alaihi

Artinya: Wahai Allah, aku memohon kepada_Mu kebaikannya dan aku berlindung kepada_Mu dari kejahatannya.

Saturday, March 14, 2009

Panggung Hidup - dari seorang kawan

Saat itu aku berada di penghujung hari, waktu-waktu pergantian malam dan pagi. Sepenggal waktu dari deretan hari yang selalu menjadi favoritku untuk duduk dan menikmati kehidupan ini. Sebuah lakon tengah dimainkan, peran-peran yang sama dan alur yang masih berjalan lambat seperti sebelumnya. Namun tak juga menyurutkan keinginanku untuk tetap menikmatinya, mengambil selarik dari beribu baris percakapan yang kelak akan diingat sebagai kenangan.

Kopi sudah tersisa setengah gelas, sementara puntung rokok hampir memenuhi asbak di depanku. Sudah berjuta-juta partikel asap memenuhi paru-paruku, setiap detik mengalir bersama aliran darahku. Untuk sebuah keyakinan, bahwa itu akan menstimulus laju aliran darah ke otak dan memudahkanku mencerna setiap percakapan dan gerak gemulai peran dalam sketsa kehidupan ini. Seorang kawan lama datang dan mengambil duduk di sebelahku, kami duduk berdekatan nyaris tak berjarak satu dengan yang lain. Sejenak ia melirik ke arah gelas kopiku tanpa berkata apa-apa. Aku pun menunggu satu kata darinya, satu kata sapaan atau ungkapan permisi untuk duduk bersama. Tapi kami biarkan diri kami terhanyut dalam nuansa suasana magis di pinggiran panggung kehidupan hari-hari.

"Setengah gelas kopi, setengah bungkus rokok, setengah perjalanan kehidupan.", ujarnya mengawali.

"Mungkin baru setengah, atau bahkan mungkin sudah di ujung. Tak ada yang pernah bisa menduga.", jawabku melanjutkan.

"Misteri akan selalu jadi masa depan bagi siapa saja yang berhak atas udara di alam ini untuk nafasnya.", dia menimpali.

"Tapi setiap detil akan tetap mengejutkan.", jawabku.

"Selalu . . . . mengejutkan.", dia tersenyum memandang ke arahku. Kami berjabat tangan erat sekali, berpelukan dan melepas kerinduan satu sama lain seolah puluhan tahun kami tak berjumpa.

Meski kami sering berjumpa, namun dalam setiap perjumpaan akan selalu ada perasaan rindu yang mengharu biru. Seperti sepasang kekasih yang selalu merindukan pertemuan, merindukan kali pertama tangan mereka bertautan, kali pertama bibir mereka merasakan nikmatnya kecupan. Kerinduan itu tak kan pernah bisa diterjemahkan tanpa kau merasakannya dengan sungguh, dengan segenap rasa.

Kami kembali hanyut dalam cerita yang dimainkan di atas panggung, berusaha memahami setiap gerak, setiap perubahan mimik dan tutur kata yang terucap oleh setiap pemainnya. Perubahan demi perubahan mengalir tanpa kami sadari, dan ketika sejenak menengok ke belakang kami sudah terlampau jauh meninggalkan tempat di mana kita menyandarkan pijakan awal sebagai acuan.

"Setiap peran akan memilih untuk berubah, atau dipaksa untuk berubah karena perannya itu sendiri. Meski terkadang ada gesekan-gesekan dalam batin yang menolak perubahan, namun satu tanggung jawab akan melunturkan ego yang mendekam dalam diri.", dia menjawab kebimbangan yang ada dalam benakku meski aku belum sempat mengutarakannya.

"Cobalah lihat lebih dekat tentang bagaimana mereka menikmati perubahan peran itu, emosi yang tertuang dan beban yang terpikul. Itulah salah satu keindahan yang bisa dinikmati.", dia melanjutkan.

Aku mengaguminya, seorang kawan dari masa lalu yang kerap mengajakku mampir di beranda depan rumahnya hanya untuk bertanya tentang matahari sore. Dia yang dulu kepadanya pernah kupamerkan kedekatanku dengan angin malam dan betapa gairah cintaku kala itu sanggup menggetarkan aura filosofinya. Seorang kawan filsuf yang hidup sebagai kawan bagi semua orang, hari ini duduk berdampingan denganku nyaris tanpa sekat, nyaris tanpa jarak.

"Lalu, . . . jika kau sempat ada di atas panggung sana. Apa yang ingin kau dapatkan?", aku mulai mempertanyakan respon penonton yang ikut hanyut juga dalam setiap peran seolah-olah mereka menjadi satu bagian dari cerita yang ditampilkan. Seolah-olah hidup merekalah yang menjadi dasar dari lakon cerita malam ini.

"Aku hanya ingin memberi. Seperti mereka semua. Mereka memberi kesempatan pada yang lain untuk ikut tertawa, ikut menangis dan terkadang ikut marah dalam balutan cerita yang ada di angan mereka masing-masing. Aku ingin mereka merasakan apa yang selalu aku rasakan, kebahagiaan yang sama yang setiap hari kurasakan.", jawabnya.

Aku tertegun sejenak, mencerna setiap kata-katanya. Lalu aku kembali mengamati para pemain dan penonton, mengamati bagaimana mereka menyatukan diri dan emosi mereka dalam cerita. Sebuah harmonisasi yang terangkai indah dan sulit untuk didefinisikan secara nyata. Sebuah perjalanan filosofis - spiritual yang kuyakin hanya dia yang sanggup mencernanya. Dan hari ini aku berkesempatan untuk diajaknya bergabung dalam perjalanan ini.

"Kita berjumpa lain waktu. Nikmatilah apa yang ada.", dia beranjak ingin berpamitan.

"Kapan? Di mana? Besok?", kini giliranku yang tak sabar ingin segera dipertemukan kembali.

"Jangan diatur, karena kita bukan pengatur yang baik.", dia tersenyum sambil berlalu.

Aku melihatnya berjalan dengan langkah ringan menyusuri koridor, dari belakang kulihat punggung orang yang kukagumi. Punggung yang mengisyaratkan ketegaran dalam mengarungi ribuan hari.

Kuhabiskan sisa kopi dalam gelas dan kuakhiri hiburanku malam ini. Esok, aku akan menanti kejutan yang lain.






moer

Sunday, February 8, 2009

dari sini ke Timbuktu, berkenalan dengan Ibnu Batutah

Dari SURAMADU ke TIMBUKTU

Malam ini aku sengaja mengajak istriku jalan-jalan. Menikmati suasana malam di Surabaya yang penuh dengan kejutan bisa jadi hiburan tersendiri bagi warga desa seperti kami. Jalur yang kami tempuh sengaja disesuaikan dengan jalur perjalanan kami ketika masih masa pacaran dulu. Boleh jadi inilah satu momen yang disebut napak tilas. Meskipun rasanya aneh jika kami dianggap menapak-tilasi sebuah perjalanan yang tidak bernilai historikal bagi masyarakat luas, tapi setidaknya cukup berharga bagi kami berdua. Berawal dari daerah Tanah Merah yang terletak di sebelah barat jalur panjang Suramadu (saat ini masih dalam tahap pembangunan) kami menyusuri kampung-kampung di daerah Sidotopo dan keluar di jalan Rangkah yang merupakan terusan panjang jalan Kenjeran ke arah Kapasan.

Dari sana kami meneruskan perjalanan ke arah tengah kota, mulai Surabaya Plaza - Jenderal Sudirman - berbelok ke Basuki Rachmad terus ke Embong Malang - menikung di Praban - Blauran kembali ke Tunjungan dan berbalik arah menuju pusat pemerintahan Grahadi - Balai Pemuda. Selanjutnya kami meneruskan ke Timur menyusuri jalan Dharmawangsa.

Sambil mencari warung makan untuk menyantap makan malam berdua, aku menemukan sebuah iklan neon yang terpasang membentang di sebuah pertokoan Alfamart. Iklan rokok LA - Light begitu mengejutkanku, karena di sana seolah-olah digambarkan penunjuk jalan menuju tempat-tempat terkenal. Arah panah ke atas dan di bagian bawahnya tertulis Alaska, seolah-olah menyebutkan secara harfiah bahwa ke Alaska haruslah menempuh jalan ke Utara (disimbolkan dengan panah menunjuk atas). Dan disampingnya tergambar arah panah yang menunjuk ke Barat, di bagian bawahnya tertulis sebuah nama kota yang sering kuucapkan, sering kudengar tapi sangat sedikit pengetahuanku tentangnya. Kota tersebut adalah TIMBUKTU.

Ketika membacanya aku terpingkal-pingkal sembari masih memegang kemudi sepeda motorku. Terang saja tingkah anehku mengundang rasa penasaran istri,
"Ada yang aneh, Mas?", tanyanya.
"Adik lihat baleho iklan LA-Light di Alfamart tadi?", balasku bertanya
"Nggak, kenapa emangnya?"
"Ada tertulis kota TIMBUKTU. Sampeyan pernah denger?"
"Sepertinya familiar, tapi lupa."
"Dulu, aku dan temen-temen sering nyebut kota itu sebagai satu istilah untuk menyebutkan sebuah tempat yang jauh dan takkan mungkin terjangkau. TIMBUKTU, kota yang aneh dan iklan yang aneh."

Kami berdua benar-benar tertawa dan terhibur dengan iklan itu. Tapi bukan itu intinya. Justru nama kota itu terus terngiang di pikiranku. Dan sesampainya di rumah, sengaja aku browsing internet dan mencari satu kota yang bernama Timbuktu, mencoba menelaah tentang asal-usul dan hal yang spesial tentangnya.

Menakjubkan! Kata itu rasanya pantas untuk menggambarkan kekagumanku ketika mata sayuku mengamati setiap penjelasan di wikipedia tentang sebuah kota yang bernama TIMBUKTU. Kota yang termasuk di wilayah negara Mali di benua Afrika itu ternyata menyimpan berbagai macam kebudayaan dan pengetahuan yang luar biasa.


Di TIMBUKTU, mengenal Ibnu Batutah


Ketika aku mulai terhubung dengan dunia maya dan siap berpetualang menjelajahi setiap situs-situs yang berhias aneka ragam informasi dan kesenangan, dengan lancar aku memetakan perjalananku. Dimulai dari satu nama kota TIMBUKTU sebagai awal pencarian, aku mulai menjelajah dan mereguk setiap hidangan yang disajikan. Tak perlu bekal banyak dalam perjalanan ini, petualangan yang cukup menyenangkan.

Di Timbuktu (halaman wiki yang memuat informasi tentang Timbuktu) aku mulai mengenal asal-usul nama Timbuktu, mengenal legenda rakyat yang melahirkan istilah tersebut sampai orang-orang yang menyebut Timbuktu dalam tulisan-tulisannya. Ternyata di Timbuktu, ada sebuah sekolah yang juga disebut madrassah. Hampir sama dengan yang ada di Indonesia, madrassah di sana juga dipimpin oleh seorang imam dan banyak mengajarkan hal-hal yang termuat dalam Al-Qur'an. Meskipun ilmu-ilmu lain seperti astronomi, pertanian (botany) dan lainnya juga termasuk dalam kurikulum. Sebuah sistem pendidikan yang mengacu pada pola pengembangan Islam di jaman-jaman keemasan. Penyebaran Islam sampai juga di Timbuktu, mengingat wilayahnya berbatasan dekat dengan Arab, sebagai pusat penyebaran Islam pada masanya.

Mengingat pengembangan pendidikan universitas Islam yang penuh dedikasi dan semangat untuk maju, aku mulai menggali informasi lebih dalam tentang tokoh-tokoh Islam yang mungkin terlibat di dalamnya. Sesaat aku berfikir tentang nama-nama sahabat Nabi SAW yang diutus untuk menyebarkan agama dan pendidikan, tapi tak dapat kusebutkan satu namapun dari hasil penggalianku (mungkin aku menggali di tempat yang berbeda, atau kurang teliti). Tapi aku menemukan sebaris nama yang cukup arabiah, karena di dalamnya mengandung begitu banyak kata ibnu (atau bin yang berarti putra dari .. ). Nama yang terpampang jelas di sana adalah Abu Abdullah Muhammad Ibn Abdullah Al Lawati Al Tanji Ibn Battuta, atau yang biasa dikenal dengan sebutan Ibnu Batutah.

Bagi sebagian dari kita, mungkin nama itu cukup familiar. Tapi bagi yang belum pernah mendengarnya, Ibnu Batutah adalah Vasco Da Gama-nya dunia Timur (Islam). Dari dirinya (melalui jurnal perjalanannya) banyak sekali nama-nama tempat dan kebudayaan yang pernah disinggahinya. Dari semenanjung Arab menyebrang ke Anatoli, Turki sampai ke Samudra Pasai (kerajaan di wilayah Aceh & Sumatra).


Dari sebuah catatan menyebutkan, bahwa Ibnu Batutah telah menempuh kurang lebih 75 ribu mil sepanjang hidupnya. Beliau menunaikan haji 2 kali dan bertolak ke segala penjuru dunia untuk belajar sekaligus menyebarkan agama. Beliau adalah Backpacker sejati di jamannya, dan hingga kini namanya dikenal dari Dubai sampai ke Bulan. Ibnu Batutah Mall di Dubai salah satu bukti bahwa namanya dikenal di dunia Arab, dan Ibnu Batutah Crater (sebuah kawah bekas letusan di Bulan) juga menjadi bukti namanya dikenang sampai di Bulan.

Ibnu Batutah mencatat sendiri perjalanan yang dilalui, nama-nama kota yang dia singgahi dan aneka budaya yang sempat membuatnya kikuk. Termasuk catatan mengenai perjalanannya di Afrika yang bikin beliau sempat shock culture gara-gara gaya berpakaian wanita di sana tidak pernah dia temui dalam kitab mahdzab Maliki (yang dia anut). Bukan hanya urusan budaya, dia juga sering menemui perdebatan panjang tentang agama dan filosofi. Termasuk ketika ia berada di Sumatra (tepatnya di Samudra Pasai) yang kala itu cukup banyak muslim dari aliran mahdzab Syafi'i.

Di perjalanan beliau juga mengisahkan pengalamannya dirampok dan hampir mati ketika melintasi Mongol, atau kapalnya yang terseret badai ketika beliau dalam perjalanan pulang ke Mekah setelah cukup lama berada di Asia Tenggara.



Dari Ibnu Batutah pula salah satu referensi kota Timbuktu dirujuk. Beliau adalah seorang penjelajah, seorang cendekiawan yang konsisten di jalannya hingga akhir hayatnya. Namun sampai saat ini, aku tidak pernah mendengar nama beliau di jajaran para penjelajah peta dunia. Tidak sekalipun ia disebut bersama Vasco Da Gama, Columbus dan yang lain. Dan karenanya, aku tak segan menyebut beliau sebagai Sang Fenomena Dunia.

Perjalananku ke Timbuktu, perkenalanku dengan Ibnu Batutah harus berakhir ketika jam berdentang dua kali. Aku harus segera tenggelam dalam kesibukanku sebagai pegawai esok hari. Tapi aku masih berharap, minggu depan aku sempat berpetualang kembali.

Semoga informasi ini cukup menarik untuk disimak ....




Gone McCoy

Saturday, January 3, 2009

Yang hangat, yang hangat : Over 400 people lay dead, the cowboy take another shot

Yang hangat, yang hangat :
Over 400 people lay dead, the cowboy take another shot
(Lebih dari 400 orang meninggal, tapi si cowboy malah nenggak minum lagi)

Beberapa hari yang lalu seorang teman menanyakan apakah aku akan menulis sesuatu untuk Gaza, mengingat hari-hari belakangan selalu dipenuhi insiden penyerangan Israel dan pembalasan milisi Palestina di Tepi Barat Jalur Gaza. Aku sempat menolak dengan alasan pribadi, karena khawatir dikira latah dengan aksi beberapa orang yang lagi keranjingan nulis tentang Gaza.

Tapi hari ini akhirnya aku nulis juga tentang salah satu sisi pemberitaan di jalur Gaza. Bukan detail kejadian, bukan alasan penyerangan, bukan provokasi dan bukan pula pembelaan untuk salah satu sisi. Cuma sebatas opini tentang salah satu berita yang kebetulan mampir di halaman Explorerku.

Berawal dari sebuah default motion pengguna internet yang selalu mengawali surfingnya dengan membuka 2 situs terkemuka, Google atau Yahoo!. Hari ini juga aku awali dengan dua laman yang load untuk dua alamat berbeda. Salah satunya adalah google mail di mana email dari milist selalu nongol, dan yahoo untuk emailku yang lain. Halaman pertama Yahoo! dipenuhi dengan foto-foto dan tulisan-tulisan tentang kejadian hari ini. Dan pandanganku tertuju pada seorang cowboy mabuk yang sedang berpose di depan podium. Sosok laki-laki paruh baya yang tubuhnya tidak terlalu besar, dengan rambut yang hampir seluruhnya memutih sedang bicara di podium, tak jelas di mana dan kapan foto itu diambil. Karena penasaran dengan judulnya yang memuat tentang jalur Gaza, maka aku click foto Cowboy Mabuk itu. Tapi di halaman Yahoo! berikutnya yang memuat berita lengkapnya, yang muncul sebagai cover story adalah teman si Cowboy. Perempuan berkulit agak pekat dengan penampilan rapi juga sedang berada di atas podium. Penasaran masih menggelayut di pikiranku, maka dengan sedikit kemampuan bahasa Inggris dan bantuan kamus online http://www.sederet.com aku mulai membaca beritanya.

US gives Israel free rein (kendali penuh) on whether to invade Gaza

Lho koq .... ?? Padahal beberapa selentingan belakangan menyebutkan bahwa seluruh pemimpin Eropa mengecam tindakan Israel dan mengutus Tony Blair (yang kebetulan temen mabuk-nya si Cowboy) untuk segera menyelesaikan pertikaian di Timur Tengah.

Alinea demi alinea coba kubaca untuk mengetahui maksudnya, agar tidak salah menarik kesimpulan terlalu dini (bukan ejakulasi dini/pernikahan dini) . Berita di bawahnya malah lebih asik untuk disimak, minimal asik untuk dikomentari di blog-ku.

He said "I urge all parties to pressure Hamas to turn away from terror, and to support legitimate Palestinian leaders working for peace," including Mahmud Abbas, president of the US-backed Palestinian Authority


Ternyata si cowboy berpendapat bahwa konflik ini diawali karena si Hamas sering melemparkan roketnya (baca:ketapel) ke Israel. Dan hal ini tidak bisa dibenarkan, jadi dia mendesak Palestina untuk menyudahi lemparan ketapelnya. Sementara di sisi yang lain ia memberikan akses penuh pada Israel untuk membalas serangan Palestina. Karena tangan di balas dengan tangan, jadi ketapel boleh dibalas dengan serangan udara (bahasanya Yahoo! : heavy air strikes).

Aku makin yakin kalo si cowboy lagi mabuk berat setelah di paragraf lanjutannya dia sempat berkomentar :
"This recent outburst of violence was instigated by Hamas -- a Palestinian terrorist group supported by Iran and Syria that calls for Israel's destruction," Bush said.

Waduh...waduh, Om Cowboy malah nenggak minuman lagi. Susah nih .. apalagi pake nyebut nama-nama orang lain.

Selanjutnya ditulis :
He also accused Hamas of putting Palestinian lives at risk by hiding among them.

Ada benernya juga, karena dari informasi yang kudapat bahwa anggota Hamas tinggal di perkampungan ramai bersama para warga sipil Palestina yang lain (mirip anggota GAM dengan warga Aceh mungkin ...). Bagaimanapun juga Hamas juga warga Palestina, jelas aja kalo tinggalnya bareng tetangga yang warga sipil Palestina. Apa si cowboy maunya kalo anggota Hamas harus tinggal satu atap dan berada di wilayah yang mudah diidentifikasi rudal pesawat Israel? Makin mabok aja om Cowboy.

Dengan tidak bermaksud memprovokasi, tidak bermaksud memperparah berita yang muncul dan simpang siur aku hanya ingin mengomentari actionnya om Bush yang pernah dibikinkan karakternya dalam karikatur berpenampilan cowboy sambil bawa botol Topi Miring.

Oalah Bush .. Bush ... mabok koq terus



http://uk.news.yahoo.com/18/20090103/twl-us-gives-israel-free-rein-on-whether-3cd7efd_1.html





-Gone McCoy melaporkan sambil tiduran baca koran-

Monday, December 29, 2008

Nulis bikin kecanduan . . . tapi merokok tetap perlu

Nulis bikin kecanduan . . . tapi merokok tetap perlu

Kalo baca judul di atas kayaknya nyentrik (narsis nih), tapi mungkin banyak yang mikir kalo aku lagi error dan nggak jelas mau nulis aja. Sebenernya, sewaktu akan memulai proses creative writing selalu ada proses ngunduh wangsit yang mendahuluinya. Nggak ada ritual kemenyan dan bacaan-bacaan nyeleneh, wong datengnya aja nggak bisa ditebak kapan dan dimana. Tiba-tiba mak bejundul keluar ide tentang sebaris kalimat. Hari ini yang keluar justru dua macem kalimat yang akhirnya kupaksa untuk akur berdampingan. Yang pertama "nulis bikin kecanduan" dan "merokok tetap perlu". Untuk lebih pas-nya aku tambahkan titik-titik di antara dua kalimat dan satu kata penghubung "tapi". Dengan begini, aku sudah punya judul sekaligus topik, dan proses menulis bisa dilanjut . . . . . lha sumonggo .....

Yang namanya hobi, pasti menyenangkan. Karna kalo nggak menyenangkan sebaiknya jangan dinamakan hobi, tapi keterpaksaan. Lha wong hobi itu kalo diterjemahkan bebas dengan kamus Al-Akadar artinya kesenangan koq, berarti kudu senang. Sesuatu yang menyenangkan umumnya pasti bikin orang kecanduan. Kalo ada yang kecanduan barang yang nggak menyenangkan pastinya orang itu goblog (sori lho yeee). Bagi pecandu narkoba misalnya, pasti dia lebih bisa ngerasain enaknya nge-bo'at jadi bikin kecanduan. Lha kalo mereka nggak ngerasaain enak dan senangnya terus masih tetap kecanduan, khan goblog namanya (mending kecanduan Sex kayak David Duchovny, udah jelas enaknya).

Aku punya satu hobi yang bener-bener hobi dan sumpah mati ini hobi. Namanya NULIS. Sengaja huruf-hurufnya saya bikin kapital supaya lebih gampang bacanya, takut kalo kepleset dibaca NuRis bisa fatal. Wong NuRis koq dijadiin hobi, senang - enaknya nggak jelas (sori Bang Nuris, aku kangen...) Ternyata hobi nulisku ini bener-bener bikin kecanduan, pengennya tiap hari nulis aja, nggak pake kerja tapi tetep bisa ma'em dan bisa ho ho he he. Tapi karna adanya tanggung jawab untuk ngasih makan dua-tiga orang di rumah, makanya aku tetep kerja dan nulis jadi sekadar sampingan, kalo ada waktu, kalo ada kertas, kalo ada bolpoint, kalo ada komputer, kalo ada flashdisc, kalo ada ide. Saking nyandunya, kadang aku sampe bela-belain nggak pulang kantor meskipun udah lebih dari jam kerja. Karna di kantor aku bisa leluasa make komputer buat nulis, dari pada di rumah nggak ada komputer dan terpaksa harus nulis tangan khan bisa pegel-linu tangan hamba. Kecanduan nulis ini berbuntut panjang, dari harus bikin blog yang agak ruwet mantaunya untuk terus-terusan diupdate, sebagai salah satu data base tulisan. Sampe harus ngerelain sebagian pikiran tersita untuk mikirin topik tulisan tertentu. Padahal kalo dipikir-pikir wong tulisan "ora cetho" dijual pun pasti nggak laku. Tapi what the hell, yang penting senang. Itu prinsipnya.

Kalo udah kecanduan nulis, harusnya bisa konsen di satu barang candu aja ya. Tapi kenapa kecanduan rokoknya malah menjadi-jadi. Setiap kali pergi ke warnet untuk update tulisan, pasti habis setengah bungkus rokok dengan alokasi yang nggak jelas. Kapasitas daya tampung paru-paru nggak lagi optimal, daya sedot mulut jadi kacau karena seringnya ngisep rokok nggak pake mikir. Wong otaknya lagi konsen nulis apa di blog ini. Dulu sih aku masih sering pake alasan kalo ngerokok bisa meningkatkan daya relax yang berkembang menjadi imajinasi dan berbuah karya tulis. Padahal kalo ditelaah lebih lanjut, nggak ada sama sekali unsur ilmiahnya dari statement itu. Hanya sugesti bahwa itu bisa membantu untuk relax. Sekarang yang jadi masalah, bagaimana produktifitas tulisan menjadi lebih meningkat tanpa harus meningkatkan konsumsi rokok sebagai bahan bakar. Kalo logikanya harus nyari bahan bakar alternatif, satu hal yang bisa dilakukan sambil nulis. Makan cemilan ato makan permen adalah solusi lama yang bisa diterapkan. Minum kopi jadi alternatif kedua. Tapi untuk yang pertama aku masih belum bisa menikmati, untuk yang kedua ini agak sedikit kontroversi. Wong mulutnya perokok kalo kena rasa kopi bawaannya pingin ngisep lagi.

Nulis yang jadi hobi dan bikin kecanduan ternyata nggak bisa ngurangi jatah rokok. Padahal gaji tetep dan jatah rokok bulanan dari sang Istri tercinta juga nggak bakal naik, yang ada malah bakal dicabut subsidinya di pertengahan tahun 2009. Aku masih nyari cara untuk itu, sementara ini aku main kucing-kucingan ama si mulut dan teman mainnya yang bernama SuGesti. Aku tancepin batang rokok di mulut, korek disulut tapi nggak dibikin bakar rokok cuma buat nyenengin SuGesti. Dan buntutnya dua jam berlalu nulis lancar tapi mulut rasanya kecut karena ngisep angin yang nggak jelas.

Kalo ada yang bisa bantu untuk solusi ngilangin hobi ngerokok, tolong segera membantu. Ini masalah pelik. Mengingat PERDA akan segera diberlakukan dan subsidi rokok dari Pemerintahan Rumah Tangga akan segera dihapus. Sumpah, ane zuzur. Ane butuh bantuan ....




Gone McCoy

Sunday, December 21, 2008

we call it December

Sejak akhir November, beberapa ruas sungai yang sejak setengah tahun lalu berubah menjadi jalur pejalan kaki kini kembali difungsikan menjadi sungai. Tuhan dengan KuasaNya mengucurkan setetes demi setetes gerimis untuk membasahi tanah bumi yang dicintaiNya. Satu per satu sungai sumber air mulai memompa kembali resapan air hujan selama beberapa minggu dan mengalirkannya dari hulu untuk kebutuhan manusia-manusia perkasa yang sepanjang bulan mengeluh susahnya mencari air bersih untuk kebutuhan hidupnya. Dan di awal bulan ini, semua kemegahan alam Indonesia lengkap dengan status yang menyertainya, ijo royo-royo gemah ripah loh jinawi kembali diperlihatkan.

Bulan ini adalah bulan penuh rejeki, yang turun teruntai dari tetes demi tetes gerimis untuk membasahi seluruh amarah, dengki, dendam dan sakit hati yang selama berbulan telah menghantui kehidupan manusia di bumi pertiwi. Namun tetes gerimis diimbangi oleh rentetan tetes gerimis yang mencatat beragam tragedi. Tragedi yang datang berarak-arakan seperti ingin menyongsong tahun yang baru, dan meninggalkan bilangan tahun yang tertapak selama beratus hari ini. Di bilangan awal bulan Desember sebagian besar umat manusia menunduk penuh khidmat kepada sang Khalik untuk mengagungkan Asma-Nya. Tua-muda, hitam-putih, tinggi-pendek berbondong-bondong menyongsong panggilan yang paling suci bagi umat muslim, sesaat mengheningkan cipta rasa dan karsanya ke hadirat Pemilik Segala. Sementara yang ditinggalkan beramai-ramai berlomba-lomba meningkatkan kualitas hidupnya dengan membagikan sebagian dari kelebihan yang dimiliki dengan berkurban. Kambing, sapi, onta jadi perlambang kesucian hati yang ingin mengikhlaskan hati.

Di negeri para aulia, serombongan manusia yang berusaha memenuhi panggilanNya, terlunta meski mereka berpunya. Terlantar meski sebelumnya mereka berkecukupan. Mereka yang menunaikan ibadah haji, dengan persyaratan memiliki kemampuan fisik dan materiil, namun sejarah berkata lain. Mereka diombang-ambingkan nasib bagai seorang yang miskin papa. Dan di saat mereka kesusahan, di negeri mereka tengah mencatat sebuah peristiwa statistika modern dengan penambahan angka kematian. Beberapa puluh orang meninggal, ratusan terluka karena hari itu seluruh umat Islam dituntut untuk merayakan Hari Raya Idul Adha. Hampir serupa dengan peristiwa sebelumnya yang terjadi di Hari Raya Idul Fitri, antrian untuk menerima sedekah adalah antrian mereka terakhir yang membawa mereka ke pangkuan Sang Khalik, semoga amal mereka diterima dengan ikhlas dan Allah melimpahkan ridho-nya pada kita semua.

Dua kali hari raya, dua kali jatuh korban di tanah pertiwi. Atau mungkin pemerintah harus menyiasati dengan meniadakan Hari Raya, agar tidak ada nyawa terbuang percuma? Semoga Allah mengampuni setiap buah pemikiran yang timbul dari syaraf-syaraf hipotalamusku.

Hujan yang turun di Hari Raya Besar itu ikut menguras air mata, dan mengalirkannya jadi ribuan anak sungai duka yang selamanya akan tercatat dalam kitab sejarah bangsa. Tak perlu berserang tiga hari untuk berpesta di hari Tasyrik, sebagian dari kita sudah siap mengangkat senjata, mengasah kata untuk berargumentasi dan memperdebatkan kekuasaan fana. Sidang diselenggarakan di berbagai tempat untuk berbagai topik bahasan penting. Sidang kejahatan penganiayaan, sidang keputusan pemilihan kepala daerah hingga sidang perceraian artis. Semua tentang ego, semua tentang gengsi dan ambisi. Bukankah beberapa hari yang lalu kita tunduk dan sujud ke hadiratNya berharap agar momentum Idul Qurban membekas di relung sanubari dan mengajarkan kita untuk rela berkorban?

Wahai ustad, wahai ustadzah yang ingin memimpin negeriku. Bukankah sejak SD kita sudah diajarkan bagaimana keikhlasan Nabi Ibrahim untuk menegakkan sebuah kata Haq (benar). Atau kita terlampau sering berganti kaca-mata, sehingga kebenaran bisa diartikan dalam banyak versi dan diargumentasikan sama kuat. Mungkin pemerintah perlu mengkaji ulang mengenai ijin usaha optik di negeri ini. Agar tidak banyak kaca-mata yang digunakan untuk menilai sesuatu.

Minggu berselang, dan gempuran gelombang pasang untuk krisis finansial makin terasa di sebagian masyarakat. Yang kemarin masih asik membubuhkan finger print-nya sebagai tanda bahwa yang bersangkutan masuk kerja, hari ini harus membubuhkan tanda tangan yang mengisyaratkan bahwa yang bersangkutan tidak perlu bekerja lagi. Baru kemarin mereka berteriak menuntuk kenaikan upah minimum kota, dan hari ini mereka harus menghitung ulang neraca rumah tangganya dengan kredit per bulan yang masuk ke tabungan mereka adalah nol.

Tuhan hanya muncul di awal Desember, sebab hari-hari berikutnya yang ada hanya pergolakan antar manusia yang menyelingkuhi-Nya. Mereka berlomba memompa testosteron dan estrogen-nya untuk menyetubuhi setiap sumber hidup. Minyak tanah langka, diharapkan rakyat beralih ke elpiji. Tapi elpiji belakangan juga bersembunyi entah di mana. Mungkinkah kita harus kembali memasak dengan kayu dan arang? Jika ya, pemerintah perlu juga untuk mengkaji ijin pembalakan liar, mengingat kayu bisa digunakan sebagai bahan bakar.

Industri-industri mulai bersiap menggulung tikar pandan-nya. Ribuan buruh dihadapkan pada masalah kesehatan jantung kronis. Bersiap untuk menghadapi penghakiman hari esok yang sebenarnya tidak terlalu gawat dibandingkan Penghakiman Sebenarnya. Ketika buruh kehilangan ladangnya, aku teringat pesan beberapa orang tua di kampungku dulu. Kembali bertani, menjadikan Indonesia swasembada pangan seperti sedia kala. Tapi pupuk juga langka? Ada kesalahan pada rantai pasokan pupuk, sehingga muncul kelangkaan. Jika tak ada pupuk, tanaman akan tumbuh seadanya, bahkan mungkin terkesan kurang bergizi. Tapi setidaknya petani jadi mampu mengurangi asupan bahan kimia pada setiap tanaman, dan itu berarti pasar organik akan kembali diramaikan oleh petani-petani kita sendiri. Atau mungkin perlu dibuatkan Keputran II yang khusus menjual sayuran tanpa pupuk?

Bulan Desember belum juga habis, Natal yang setiap tahun menghadirkan pesan damai akan segera menyambut. Setelah itu Muharram, bulan baru di tahun yang baru juga Januari bulan baru di tahun yang baru pula akan segera menyongsong. Fajar baru diharapkan memberikan setitik harapan untuk bangkit kembali. Bangkit untuk menjadikan semuanya lebih baik. Semoga Allah mengampuni dosa kami semua, melimpahkan ridho dan barokahnya ke setiap jengkal usaha kami yang dimulai atas NamaNya.

Dan di minggu ketiga bulan ini ketika aku mencatatkan beberapa tragedi dan menuliskan beberapa baris doa, aku masih mendengar dentuman musik dangdut membahana. Orang Jawa berpesta di bulan Haji. Bulan Besar, cocok untuk perhelatan acara pernikahan, sunatan dan yang lain. Sebab bulan Besar selalu dikonotasikan dengan rejeki yang berlimpah. Di tengah hiruk pikuk musik dangdut ini aku berfikir, mungkinkah sarjana kita harus berfikir peluang bisnis di penyewaan alat pesta dan meja-kursi?